Selasa, 19 Juni 2012


SIMULASI ANDRAGOGI & PEDAGOGI





Berdasarkan simulasi yang saya lakukan bersama kelompok, kami semakin memahami apa itu andragogi dan paedagogi dan bagaimana perbedaan antara keduanya. Simulasi yang saya lakukan bersama kelompok adalah sebagai berikut:

Andragogi
Kami melakukan simulasi andragogi ini dengan mengumpamakannya pada orang dewasa yang terlambat untuk mengenal huruf atau disebut juga "kejar paket a". pada simulasi ini Defi berperan sebagai guru, Okto sebagai bapak pengusaha toko kelontong yang buta huruf, dan Regina sebagai ibu yang akan menikah dengan saudagar kaya yang mengharuskannya harus bisa membaca dan menulis. Sang guru membimbing bapak dan ibu tersebut agar dapat membaca dan menulis dengan lancar. Meskipun metode yang digunakan meyerupai sekolah, tetapi motif belajar yang dimiliki para peserta didk berbeda dengan peserta didik di sekolah biasa. Pada kejar paket a ini, peserta didik belajar dengan kesadaran mereka sendiri dan menyadari bahwa mereka membutuhkan ilmu yang mereka dapat dalam proses belajar mengajar ini.

Paedagogi
Pada paedagogi ini, kami melakukan simulasi dengan latar tempat kolam renang. Okto berperan sebagai Guru renang, Defi dan Regina sebagai murid. Sang guru mengajarkan pelajaran berenang sesuai dengan materi atau bahan ajar yang diatur oleh kurikulum. Murid cenderung pasif dan mengikuti materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Selain itu murid-murid juga diberikan beberapa tugas oleh guru tersebut. 

Itulah beberapa simulasi yang saya lakukan bersama kelompok, saya sangat antusias dengan metode belajar seperti ini karena saya dapat lebih memahami dan mengerti tentang bahan ajaran dan dapat mempraktekkannya secara langsung. 

Jumat, 08 Juni 2012

ANDRAGOGI

Apa itu andragogi? jika sebelumnya kita udah bahas pedagogi maka kali ini ada andragogi yang mana tidak terlalu beda dengan pedagogi, keduanya merupakan istilah pendidikan, namun andragogi memiliki fokus yang berbeda,, jika pedagogi merupakan seni mengajar dengan objek anak maka andragogi merupakan seni mengajar dengan objek orang dewasa. istilah andragogi pertama diperkenalkan oleh pendidik asal jerman Alexander Kepp pad tahun 1833 sebelum di modernisasi olehdan dikembangkan oleh seorang pendidik asal amerika Malcolm Knowles. secara etimologis Andragogi besaral dari bahasa yunani andra yang berarti orang dewasa, dan agogos yang berarti memmpin/membimbing. nah dalam prinsipnya, mendidik bukan menggurui, namun bekerja sama untuk meningkatkan pengetahuan antara si pendidik dan peserta didik. menjadikan orang dewasa sebagai subjek bukannya objek, para praktisi andragogi boleh dikatakan meyerupai defenisi guru zaman sekarang, kalo bahasa formalnya Guru adalah fasilitator yang berarti peserta didik tidak menerima mentah mentah apa kata pendidik, namun proses belajar berlangsung lebih seperti diskusi dan problem oriented. ini cocok dengan karakter orang dewasa yang biasanya gampang tersinggung dan cenderung tidak suka digurui. mereka juga lebih suka belajar dengan contoh, dengan sesuatu yang kongkrit dan terkait langsung dengan kehidupan nyata.

Banyak profesi yang menggunakan andragogi sekarang ini, contohnya motivator, guru, politikus, penulis dan banyak lagi. pada dasarnya pendidikan modern sudah seharusnya menerapkan disiplin andragogi dalam prakteknya, defenisi guru yang bergeser menjadi fasilitator menjadi indikasi yang baik dimana bahkan anak anak pun sekarang sudah diajari agar kritis. 


MINI PROYEK PENDIDIKAN

                                       M. Yani Bagus Irianto   (11-059)




Topik
Dinamika Pengajaran

Judul
Keefektifan pengajaran antara guru professional dengan guru non-profesional

Pendahuluan
Sebagaimana kita tau, pembelajaran dilakukan dengan system mengajar dan diajar. Nah, salah satu aspek penting yg memengaruhi kualitas dari suatu pendidikan adalah sumber daya pengajar. Jadi, kami disini mengamati dan menanyakan cara pegajaran yang efektif menurut pandangan siswa itu sendiri. Cara mengajar mana yang lebih disukai dan lebih mudah dimengerti oleh siswa. Maka dari itu, kami melakukan penelitian ini untuk mengetahui cara mengajar mana yang lebih sesuai untuk siswa, karena kita tau siswa akan lebih antusias jika dihadapkan dengan pengajar yang cara mengajarnya mereka sukai.

            

Landasan Teori

Paedagogi

Paedagogi berdasarkan Buku John W. Santrock adalah cara mengajar suatu disiplin ilmu secara efektif. Maksud dari efektif disini adalah mampu membuat siswa menjadi lebih aktif di dalam kelas. Paedagogi merupakan istilah yang merujuk pada strategi pembelajaran. Disamping itu paedagogi merupakan suatu ilmu yaitu ilmu yang membicarakan masalah dalam kegiatan mendidik, seperti alat mendidik, tujuan mendidik, tekhnik mendidik, dan sebagainya. Paedagogi termasuk ilmu yang sifatnya teoritis dan praktis. Oleh karena itu paedagogi banyak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu sosial, ilmu psikologi, psikologi belajar, metodologi pengajaran, sosiologi, filsafat dan lainya.
Berikut merupakan kompetensi dasar guru menurut undang undang.
1.             KOMPETENSI PEDAGOGI
Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.
a.      Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran
Menurut Joni (1984:12), kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan:
1)      merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran,
2)      merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar,
3)      merencanakan pengelolaan kelas,
4)      merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan
5)      merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi (1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6)  mampu menyusun perangkat penilaian, (7) mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.
b.      Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan  teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.Yutmini (1992:13)  mengemukakan, persyaratan kemampuan yang harus di miliki guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar meliputi kemampuan: (1) menggunakan metode belajar, media pelajaran, dan bahan latihan yang sesuai dengan tujuan pelajaran, (2) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan perlengkapan pengajaran, (3) berkomunikasi dengan siswa, (4) mendemonstrasikan berbagai metode mengajar, dan (5) melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar.
Hal serupa dikemukakan oleh Harahap (1982:32) yang menyatakan, kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan: (1) memotivasi siswa belajar sejak saat membuka sampai menutup pelajaran, (2) mengarahkan tujuan pengajaran, (3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan pengajaran, (4) melakukan pemantapan belajar, (5) menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar, (6) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan, (7) memperbaiki program belajar mengajar, dan (8) melaksanakan hasil penilaian belajar.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi melaksanakan proses belajar mengajar meliputi (1) membuka pelajaran, (2) menyajikan materi, (3) menggunakan media dan metode, (4) menggunakan alat peraga, (5) menggunakan bahasa yang komunikatif, (6) memotivasi siswa, (7) mengorganisasi kegiatan, (8) berinteraksi dengan siswa secara komunikatif, (9) menyimpulkan pelajaran, (10) memberikan umpan balik, (11) melaksanakan penilaian, dan (12) menggunakan waktu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.

Tujuan
1.      Melihat ketertarikan siswa terhadap cara mengajar dari guru formal dengan guru informal
2.      Mengetahui cara mengajar mana yang lebih disukai siswa.
3.      Mengetahui cara mengajar mana yang lebih efektif dan mudah dipahami siswa.
4.      Mengetahui apa yang diharapkan siswa agar proses belajar dan mengajar menjadi lebih baik






                                                                    Alat dan Bahan

1.            Alat tulis (kertas dan pulpen)
2.      Kamera digital
3.      Handphone
4.      Laptop
5.      Reward (snack dan kue)



Analisis Data


Metode yang kami gunakan adalah :

1.      Metode wawancara
Metode wawancara kami lakukan dengan mengajukan  beberapa pertanyaan singkat kepada siswa SMA Harapan 3 secara langsung.

2.      Metode observasi
Metode observasi kami lakukan dengan mengamati secara langsung proses belajar mengajar di dalam kelas formal dan informal.

Subjek Observasi

10 orang siswa/I SMA Swasta Harapan 3
2 orang siswa private tutor “  “



Time table perencanaan kegiatan



Kegiatan
April
Mei
Juni
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
1.
Pemilihan tema
v
2.
Penentuan judul
v
3.
Diskusi metode pelaksanaan penelitian
v
4.
Penyusunan pendahuluan dan landasan teori
v
5.
Peninjauan lokasi

v
6.
Pelaksanaan observasi
v
7.
Penganalisaan data dan penarikan kesimpulan
v
8.
Penyusunan laporan
v
9.
Pembuatan Poster
v
10.
Evaluasi
v




Kalkulasi Biaya


1.      Reward (snack)                    : Rp 30.000,-
2.      Kue (Bolu “Aroma”)               : Rp 22.000,-

Total                                             : Rp 52.000,-

HASIL OBSERVASI

Dalam pelaksanaan observasi ini kami mengunjungi rumah M. Oktorianta Bangun untuk mengamati dinamika pengajaran pada tenaga pengajar informal sekaligus mengetahui pandangan siswa terhadap cara mengajar dianggap siswa tersebut lebih efektif. Selain dari subjek informal, kami juga mengunjungi sekolah Harapan 3 untuk mendapatkan subjek dari sektor formal. Disini kami mengamati proses belajar mengajar di kelas dan melakukan wawancara terhadap 10 siswa SMA Harapan 3. Disini kami ingin melihat perbedaan cara mengajar guru profesional dan guru non-profesional dalam melakukan pendekatan kepada siswa, dan kemampuan untuk membuat siswa lebih mengerti terhadap mata pelajaran tersebut.
Hasil yang kami temukan dilapangan menunjukkan bahwa :
ü  jumlah peserta ajar berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Dan hal ini relevan karena banyaknya pendapat yang menyatakan bahwa mereka lebih menyukai sistem belajar informal dibanding formal dimana biasanya dalam pendidikan informal siswa per kelasnya tidak lebih dari 20 30 orang.
ü  aturan-aturan yang terlalu ketat dalam institusi pendidikan formal mengurangi ketertarikan siswa untuk belajar.
ü  Pendekatan interpersonal kepada siswa dalam pembelajaran informal lebih baik dibanding sistem pembelajaran formal. Hal ini bisa juga disebabkan oleh peserta ajar yang terlalu banyak di dalam kelas formal, sehingga tenaga pengajar kesulitan meng-handle masing-masing individu.
ü  Ada pendapat mengenai perbedaan skill mengajar pada guru formal dibandingkan dengan guru informal, menurut kami ini lebih disebabkan oleh perbedaan kurikulum dari sekolah formal dengan institusi pendidikan informal
ü  Ada perbedaan motivasi siswa untuk mengikuti pendidikan informal, diantaranya untuk menambah skill dibidang seperti bahasa inggris atau mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas formal (sekolah).
ü   Siswa tetap menganggap bahwa pendidikan formal itu penting. Namun mengeluhkan cara pengajaran sekolah formal yang tidak menarik
Kami juga menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran sekolah formal pada mereka. Beberapa yang bisa diperhatikan agar pendidikan formal dapat dikemas secara lebih menarik yaitu :
ü  Guru diharapkan memberi pendekatan lebih personal pada setiap siswa.
ü  Institusi sekolah agar tidak menerapkan aturan aturan yang terlalu mengekang.
ü  Meningkatkan kualitas guru dalam metode pembelajaran yang lebih student centered dan tidak membosankan.

KESIMPULAN

Dari hasil observasi, dapat kami simpulkan bahwa kebanyakan siswa yang kami interview lebih menyukai pembelajaran informal, karena terdapat perbedaan dinamika pengajaran yang signifikan dalam sistemnya. Beberapa diantaranya adalah perbedaan jumlah peserta didik, peraturan yang ada dan skill pendidik lebih advanced dan personal pada sistem pendidikan informal. ini tentu mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar.



 TESTIMONI


Muhammad Yani Bagus Irianto 11-059
Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih kepada Bu Dina yang memberikan tugas ini, karena dengan tugas ini saya kembali bernostalgia dengan masa SMA saya. Kedua, tugas ini salah satu dari berbagai tugas yang bisa dibilang mendadak dalam pengerjaannya. Itu juga yang membuat tugas ini terasa sangat menyenangkan dan menegangkan. Ketiga, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan tugas ini.

M.Oktorianta.Bangun 11-119
Tugas kali ini seru, memberi saya pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus stressful. Karena tidak ada pelaksanaan yang sesuai rencana, kalau kami berencana seringnya gak jadi, oleh karenanya kami menganut sistem go show. Tapi secara keseluruhan semuanya asik. Terima kasih pada bu dina yang telah memberikan bimbingannya. Saya sadar kerja kami tidak maksimal tapi kami berusaha lakukan yang terbaik versi kami. Jika ada kesalahan kami terbuka untuk diskusi, terima kasih.

Muhammad Rajief 11-117
Kami dari segenap kru yang bertugas dari kelompok ini mengucapkan banyak terima kasih kepada bu Dina yang telah  memberikan kami pengalaman dalam tugas mini proyek kali ini. Awalnya kami merasa kesulitan, karena banyak hal dalam tugas ini yang tidak sesuai dengan rencana kami. Tapi hal itu menjadi sebuah tantangan buat kami, dan akhirnya terciptalah karya kami ini. Semoga usaha kami selama ini dapat bermanfaat dalam kehidupan umat manusia ini, khususnya dalam hal pendidikan.wassalam.

Rabu, 06 Juni 2012


TUGAS SURVEY
M.Oktorianta.Bangun
111301119

Assalamualaikum warahmatullahi wabrokatuh, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan,saya membuat survey kecil kecilan dengan mengguanakan website kwiksurveys.com yang mana merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya mengambil topik mengenai ujian nasional dan ujian saringan masuk perhuruan tinggi dengan tujuan melihat tingkat persetujuan para stake holder, dalam hal ini mahasiswa fakultas psikologi usu stambuk 2011. Hal ini saya pikir memang sedikit off topic dari psikologi pendidikan namun cukup menjadi isu hangat yang dapat menjadi indikasi motivasi belajar mahasiswa. Dalam survey ini saya membuat 5 pertanyaan dengan pilihan setuju,netral,tidak setuju berkaitan dengan topik diatas. Berikut hasil survey saya:
1.      Diadakannya ujian nasional

Tidak setuju
14
23,73 %
Netral
19
32,20 %
Setuju
26
44,07 %


2.      Penggunaan ujian saringan masuk universitas

Tidak setuju
1
1,72 %
Netral
3
5,17 %
Setuju
54
93,10 %


3.      Diversifikasi jalur ujian masuk (UMB,SNMPTN,SIMAK UI dsb)

Tidak setuju
8
13,56 %
Netral
15
25,42 %
Setuju
36
61,02 %

4.      Rencana pemerintah menghapus ujian saringan masuk universitas negri

Tidak setuju
35
59,32 %
Netral
15
25,42 %
Setuju
9
15,25 %

5.      Rencana pemerintah menggunakan nilai ujian nasional sebagai syarat masuk universitas negri.

Tidak setuju
33
55,93 %
Netral
20
33,90 %
Setuju
6
10,17 %


KESIMPULAN

Dari sini saya tarik kesimpulan bahwa mayoritas responden setuju dengan pengadaan ujian nasional dan ujian saringan masuk universitas negri, begitupun dengan banyaknya jalur untuk masuk universitas. Dan lebih dari separuh populasi tidak setuju dengan rencana depdiknas untuk menghapus ujian saringan masuk universitas dan menggunakan nilai UN sebagai syarat masuk universitas negri.


TESTIMONIAL

Mengunakan website kwiksurvey sangat mudah dan membuka wawasan saya mengenai cara survey yang beda, tanpa harus bagi bagi kuisioner. Tugasnya juga cukup mudah dan bisa saya gunakan untuk memenuhi rasa ingin tahu saya mengenai topik ini. Secara keseluruhan tugas yang menarik dan mencerdaskan !


Demikian hasil survey saya semoga berguna jika ada kesalahan, saya terbuka untuk diskusi terima kasih atas perhatiannya J